‘Pip!’. Ringtone pesan masuk berbunyi. Dengan terburu-buru, Nadine meraih handphone-nya yang tergeletak di atas meja dan segera membaca pesan yang memang ditunggu-tunggu olehnya. Dari Monica.
‘Yg bener lo? Ih, gila banget tuh org! Gw ga bakal kemakan sama rayuan tuh orang. Ga level lagi! Duh, hunni, thx ya udah kasih tau gw.’

Nadine menatap layar handphone-nya dengan rasa puas. Ia puas karena Monica mau mendengarkannya. Dia puas karena Monica percaya pada ceritanya. Cerita tentang Doni. Semua tentang Doni dan apa yang Doni rencanakan.

***

Nadine masih ingat dengan jelas bagaimana kesan pertamanya saat berkenalan dengan Doni. ‘Seorang pemuda yang mengesankan’, pikir Nadine. Bagaimana tidak? Usianya memang terpaut agak jauh dengan Nadine yang masih belia. Nadine 19 tahun sedangkan Doni 26 tahun. Meskipun masih bisa dibilang pemuda, untuk usia 26 tahun, Doni memiliki banyak pengalaman yang luar biasa. Ia pernah belajar di Negeri Kangguru selama empat tahun dengan beasiswa yang ia terima. Meskipun mendapat biaya hidup selama itu, Doni melakukan berbagai macam kerja part time disana. Alasannya, selain biaya hidup disana kurang, Doni ingin belajar banyak hal. Tidak seperti di Indonesia, di Australia ada berbagai macam jenis pekerjaan yang bisa dilakukan. Dari sanalah Doni jadi pandai memasak berbagai macam makanan dan memiliki macam-macam keahlian. Selain itu, Doni selalu tahu bagaimana ia membuat Nadine senang dan nyaman di dekatnya. Karena itu...karena itulah Nadia begitu menyukainya. Saaaanggaat menyukainya!

Nadine pun jadi mengerti kenapa banyak cewek-cewek yang mau digombalin cowok. ‘Cewek-cewek itu bodoh’, namun Nadine telah berubah menjadi salah satu dari cewek-cewek itu. Nadine mengutuki dirinya sendiri yang mudah terbuai oleh gombalan Doni. Nadine tahu semua gombalan itu memang gombal alias bohong! Tapi rasanya nikmat sekali dibohongi dengan ‘manis’ seperti itu! Ia selalu melayang ketika Doni berkata bahwa hari ini dia cantik sekali, atau ketika Doni berkata bahwa berbicara dengan Nadine adalah saat-saat paling menyenangkan. Oh, Nadine memang bodoh! Tapi ia suka, ia suka dibodohi.

***

“Nadine, duh, lo tuh orang pertama yang bikin gw punya tanggung jawab sebesar ini ya! Gw harus ngelindungin lo! Gw tuh khawatir banget sama lo! Lo jangan lagi berharap apa-apa sama Doni! Dia bukan cowok yang baik!” ujar David, sahabat dekatnya. Sebenarnya, David-lah yang mengenalkan Doni pada Nadine, namun kini David pula yang berusaha menghalangi hubungan Nadine dan Doni, karena David menyesal bahwa Doni bukanlah Doni yang sebaik ia pikir. David kini tahu semua niat buruk Doni. Karena itu, ia rela bertengkar dengan Doni, yang telah David anggap saudaranya sendiri, demi melindungi Nadine yang ia anggap adiknya sendiri.

“Iya, gw tau, vid. Duuuh...dari awal gw tuh tau banget kalau gw ga boleh suka sama dia. Tapi perasaan gw ini udah begitu dalam. Pertama kalinya gw suka sama cowok sampai segininya!! Gw harus gimana?”
“Inget!! Sampai kapan pun lo nggak mungkin jadian sama dia! Kenapa? Pertama, dia udah tunangan. Kedua, dia bukan anak Tuhan. Ketiga, lo tau kan cara hidupnya selama di Australia? Dengan cewek-cewek disana? Lo juga tau, kan, tentang Lita, teman kantornya yang udah jadi korban?! Kecuali lo mau menggadaikan hidup lo untuk niat jahatnya dan memuaskan hati lo sendiri. Tapi ingat, kalau lo lakukan itu, kepuasan itu nggak akan bertahan lama dan lo akan hancur. Apa yang sudah terjadi ngga bisa balik lagi, dan hidup lo menuju ambang kesia-siaan. Lo ga mau kan menggadaikan anugerah yang udah lo terima hanya untuk dapat peringkat sebagai selingkuhan? Dan gw bersyukur bahwa kalian saat ini cuma berstatus teman!”

Nadine diam. Dia tahu. Dia tahu semua itu. Hubungan mereka bukanlah hubungan istimewa karena kata-kata deklamasi cinta itu tak pernah terucap dari pihak manapun. Dari awal, Doni sudah pernah bercerita bahwa ia bertunangan dan tunangannya itu tinggal di Padang. Doni bahkan pernah menunjukkan foto sang tunangan. Cantik. Cantik sekali! Nadine sampai minder karena ia merasa tidak cantik sama sekali. Namun, Doni membuatnya seolah-olah ia makhluk paling cantik di dunia, dan Doni tak pernah lagi membahas hal-hal yang bersangkutan dengan tunangannya. Doni pun tak pernah memakai cincin pertunangannya, seolah-olah dia pria yang bebas.

Nadine pun sudah mendengar tentang Lita, yang harus mengaborsi kandungannya, hasil hubungannya dengan Doni. Nadine juga tahu, Nadine bukan satu-satunya cewek di kampus yang ditaksir Doni. Nadine tahu, Monica, Rena, Sasha, Icha dan entah siapa lagi, sedang didekati Doni. Dia tahu, Doni tidak benar-benar menyukai Nadine, meskipun ratusan kali Doni menggombalinya.

Berapakalipun Nadine mendengar hal-hal buruk tentang Doni, Nadine selalu membela Doni. Ia selalu menutup telinga dan hatinya serta membuat imajinasi baru tentang Doni; Doni yang menganggap Nadine sebagai cewek paling istimewa sekalipun kenyataannya gombalan-gombalan itu sekarang beralih kepada cewek lain, Doni yang selalu baik kepada setiap orang sekalipun kenyataannya Doni hanya bersikap baik pada cewek-cewek, Doni yang tak akan berbuat hal-hal buruk padanya sekalipun Doni pernah mengundangnya main ke apartemennya sendirian (yang ditolak oleh Nadine dengan alasan ia khawatir teman-temannya yang tinggal di apartemen yang sama akan salah paham). Nadine telah menganggap kenyataan sebagai khayalan dan khayalan sebagai kenyataan. Ya, Nadine telah menjadi buta. Buta karena cinta, namun bukan pada cinta yang benar.

Ia buta dan tak mau lagi mendengarkan nasihat dan peringatan David. Sekalipun ia mendengarkan, ia segera memaafkan dan berusaha memaklumi jika Doni mulai merayunya kembali. Oh, dalam hati Nadine mengutuki dirinya yang bodoh dan lemah terhadap cinta. ‘Bapa, tolong keluarkan aku dari masalah ini! Aku mohon!’, itulah doa yang diucapkannya berkali-kali, namun Nadine tak pernah benar-benar berusaha untuk keluar. Karena ia selalu menginginkan Doni. Kedagingannya berkuasa. Perasaannya berkuasa. Sampai akhirnya...

Tak sengaja ia melihat status facebook Doni yang memamerkan foto masakannya. ‘Oke, itu sudah biasa’, pikir Nadine. Daftar komentar sepanjang 28 komentar pun iseng ia baca semua. Ada bermacam-macam komentar, dan hampir semuanya dari cewek. ‘Oke, itu juga sudah biasa’, pikir Nadine lagi. Saat asik memperhatikan komentar dari para cewek itu dan balasan gombal Doni, ia tertawa sinis. ‘Dasar cewek-cewek bodoh! Doni juga, BODOH!!!’, pekik Nadine dalam hati. Kemudian ia terpaku pada sebuah komentar dari salah satu teman cowok Doni.
‘widih, asik nih bro. Btw, gmn? Badan lo masih sakit, don?’
(‘oh, Doni sakitkah? Udah lama juga sih nggak telpon-telponan atau ketemuan, di FB pun nggak pernah lagi komen-komenan atau chat’ pikir Nadine)
‘badan gw dah nggak knapa-napa, ben. Sakit karena cinta nih, namanya! hahaha’

Melihat balasan Doni seperti itu, Nadine marah bukan kepalang! Dia tahu, orang yang dimaksud Doni dengan “sakit cinta” itu bukanlah Nadine, tapi cewek lain, yang dibawa Doni ke festival kampusnya minggu lalu. Dia sebenarnya tahu sejak lama bahwa Doni bosan padanya, namun pernyataan langsung semacam ini tetap saja menyakitkan bagi Nadine. Nadine marah sekali, dan tak bisa menguasai dirinya sendiri. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghubungi teman-temannya dan membeberkan semua hal tentang Doni pada semua cewek yang diincar Doni, karena selama ini hanya Nadine dan David-lah yang tahu seperti apa dan bagaimana Doni sebenarnya. Cewek-cewek yang didekati Doni bahkan baru tahu bahwa Doni telah bertunangan. Nadine pun yakin, cewek baru yang didekati Doni itu pasti tak tahu akan hal itu. Oh, ada sedikit rasa kasihan, karena cewek itu pasti cewek baik-baik. Nadine bisa melihat hal itu.

Nadine tak tahan untuk tidak menjelek-jelekan Doni, karena ia benci, ia benci menerima kenyataan langsung seperti itu, bahwa Doni tidak lagi menyukai Nadine seperti dulu. Ia benci perhatian Doni yang dulu selalu didapatkannya telah dimiliki orang lain. Ia benci kalau teman-temannya lebih menarik bagi Doni. Yang Nadine inginkan adalah perhatian Doni menjadi miliknya, seutuhnya. Namun itu tak akan terjadi. Nadine pun sudah tahu hal ini. Kalau ia menjelek-jelekkan Doni seperti ini, teman-temannya pasti tak akan bisa dibodohi oleh Doni.

Orang terakhir yang ia beritahu adalah Monica. Ia puas medapat jawaban seperti itu dari Monica. Ia puas!! Dan ia begitu marah! Setelah membeberkan semua hal tentang niat Doni mendekati cewek-cewek di kampusnya, Nadine mengurung dirinya seharian dikosan. Dia frustasi dengan pikirannya sendiri sampai ia tak sadar air matanya mengalir dengan deras, membasahi bantal dan kasurnya. Nadine lelah, ia mengantuk. Dalam tidurnya, ia bermimpi kembali tentang segala hal yang telah David katakan.

“Nadine, jangan biarkan perasaan menguasai lo! Lo justru harus memimpin perasaan lo!”
“Nadine, apakah anugerah-Nya yang begitu besar hanya lo hargai segitu?”
“Duh, lo tuh bikin gw khawatir, ya! Sampai kapan lo biarin diri lo jatuh?”
“Nad, jangan biarkan lo sakit hati karena hal ini! Lo harus kuat! Dia beruntung dapat cinta dari lo, tapi lo bodoh!”

Dalam tidurnya, Nadine kembali menangis, ingin ia lepaskan beban ini. Beban yang telah mengikatnya selama berbulan-bulan. Ia ingin lepas, dan dibebaskan dari keterikatan ini.

***

“Nad, nad, bangun! Nad!!” sayup-sayup ia mendengar seseorang membangunkannya. Perlahan ia membuka kedua matanya yang telah bengkak.
“Nad, kamu kenapa? Kok tidur sambil nangis? Mimpi buruk?”. Nadine mengenal suara Vivi, teman satu kamarnya, seorang anak yang cinta Tuhan, tapi karena kondisi matanya yang bengkak dan masih setengah sadar, Nadine tak bisa melihat Vivi dengan jelas untuk beberapa saat.
“Nadine?”
“Oh, Vi. Maaf!”
“Lho, kenapa minta maaf? Kamu mimpi buruk, ya tadi?”
“...nggak, aku cuma...”
Tangis Nadine pecah kembali. Amarah, kebencian, kecemburuan, penyesalan, semua bercampur menjadi satu dan membuat Nadine tidak sanggup bicara. Menangis saja yang ia bisa. “Nad, tenang, honey. Calm down. What’s the matter? Just tell me, okay?” ujar Vivi, lembut. Nadine tak bisa. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil menangis.

Okay, maybe it’s hard for you to tell me now. Can I take a pray for you, sweety?”. Nadine mengangguk setuju. Tak lama, dengan khusuk Vivi menumpangkan tangannya di atas kepala Nadine dan mulai berdoa. Entah apa yang Vivi katakan dalam doanya, Nadine tak begitu mendengar dengan jelas, karena ia sibuk dengan pikirannya yang masih kacau. Vivi berdoa lama sekali, dan entah sejak kapan, ketenangan dan kedamaian mulai memasuki hati dan jiwa Nadine. Dia merasa lebih baik sekarang. Tangis yang tadinya tak mampu ditahan pun perlahan-lahan berhenti. Ketika ia sudah benar-benar berhenti menangis, Vivi selesai berdoa.

Hening. Tak ada satu pun diantara mereka berdua yang bicara selama beberapa menit. Vivi pun tak berusaha bertanya. Dia menunggu Nadine benar-benar menenangkan dan menata kembali pikirannya yang kacau. Bagi Nadine, senyuman Vivi begitu menyejukkan dan membuatnya tenang. Hanya dengan melihat dan berada di dekat anak Tuhan yang satu ini, ia merasa bebannya mulai sedikit berkurang. Ada sebuah kelegaan yang sedikit mulai mengisi hatinya.

Setelah sekian lama berdiam diri, akhirnya Vivi bicara. “Nadine, aku nggak tahu apa yang membuat kamu begitu sedih sampai seperti ini. Apapun itu, kamu nggak harus cerita sama aku kalau kamu belum siap. Aku juga belum tentu bijaksana. Tapi kamu tahu, ada yang lebih bijaksana dan berhak untuk mendengarkan cerita serta keluhanmu. Yaitu Bapa di Sorga. Bapa merindukanmu untuk bicara dengan-Nya, Nad. Itu yang kurasakan saat ku berdoa untukmu tadi. Ia rindu kamu bicara pada-Nya. Ia bisa memberikanmu kelegaan”, ujar Vivi sambil tersenyum penuh kesejukkan.

“Hmmm..karena aku baru aja sampai, aku mau mandi dulu, ya. Aku yakin kamu juga pasti butuh waktu untuk sendiri. Kalau ada perlu, bilang aja, oke?”. Nadine mengangguk.
Nadine kembali meresapi kata-kata yang Vivi ucapkan. Benar. Sejak berapa lama Nadine meninggalkan saat teduhnya? Sudah lama sekali, tepatnya semenjak ia mengenal Doni. Ia telah menduakan Bapanya. Beruntung, Bapa yang pencemburu ini tidak menghakimi Nadine. Hari itu bagaikan si bungsu yang lama tersesat, ia berusaha kembali pada Bapa. Tidak seburuk yang ia pikir, Bapanya menerima dia dengan penuh sukacita. Nadine bisa merasakan hal itu.

Ia merenungi kembali bulan-bulan yang terbuang hampir sia-sia. Ia melihat kembali ke belakang dan tercengang akan pekerjaan-pekerjaan Bapanya yang baru ia sadari. Ia ingat bagaimana Bapa yang begitu mengasihinya telah memperingatkan Nadine berkali-kali melalui fakta-fakta buruk tentang Doni yang Tuhan sengaja singkapkan melalui David. Ia ingat ketika Nadine sengaja berlama-lama berada di dalam zona nyaman pencobaan, Bapanya selalu melindungi Nadine dengan tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk berduaan di tempat yang salah. Dan hari ini, Dia tunjukkan kasih-Nya pada Nadine melalui Vivi. Ia ingat semua itu dan sungguh bersyukur. Bersyukur bahwa Bapa tak pernah berhenti bekerja. Ia tak pernah berhenti dan menyerah.

Dalam hati, Nadine mulai berjanji tidak akan lagi lemah pada cinta manusia. Ia merasa jauh lebih baik sekarang. Perlahan tapi pasti kelegaan serta rasa damai merasukinya, melenyapkan segenap kemarahannya. Ia pun tak lagi menyesali semua yang terjadi, karena ini adalah pelajaran berharga baginya. Jika tidak, ia tak akan berhati-hati, dan Nadine tak akan merasakan betapa besar kasih Allah baginya.

Kini, Nadine tak marah lagi. Entah darimana datangnya, pengampunan ia lepaskan bagi Doni. Agak menyesal telah membeberkan kejahatan Doni, tapi ia berdoa supaya Doni berubah dan bertobat. Ia berdoa supaya Tuhan menjamah hati Doni, seperti yang Ia lakukan pada Nadine.

‘Pip!’. Sebuah pesan masuk ke handphone David. Dari Nadine.
‘David, gw bebas sekarang. I am free!